Senin, 08 Oktober 2012

Metode Drill

Secara hurufiah Drill berarti latihan yang diulang-ulang dalam waktu singkat. Maka metode Drill yang disebut juga metode latihan adalah suatu metode, cara, teknik atau strategi mengajar dimana siswa diberi latihan dan praktek berulang kali atau kontinyu untuk mendapatkan keterampilan dan ketangkasan praktis yang bersifat permanen atau mantap tentang pengetahuan yang dipelajari.

Secara umum metode Drill biasanya digunakan untuk tujuan agar siswa:
  • memiliki keterampilan motoris/gerak; seperti menghafalkan kata-kata, menulis, mempergunakan alat/membuat suatu benda; melaksanakan gerak dalam olah raga;
  •   mengembangkan kecakapan intelek seperti mengalikan, membagi menjumlahkan, mengurangi, menarik akar dalam hitung mencongak, mengenal benda/bentuk dalam pelajaran statika, ilmu pasti, ilmu kimia, tanda baca, dan sebagainya.
  • memiliki kemampuan menghubungkan antara sesuatu keadaan dengan hal lain, seperti sebab akibat banjir-hujan; antara tanda huruf dan bunyi -ing, -ny dan lain sebagainya; penggunaan lambang/simbol di dalam peta dan lain-lain.
Singkat kata tujuan dari metode drill (latihan siap) adalah untuk melatih kecakapan-kecakapan motoris dan mental untuk memperkuat asosiasi yang dibuat.

Kelebihan Metode Latihan:
  • Peserta didik memperoleh kecakapan motoris, contohnya menulis, melafalkan huruf, membuat dan menggunakan alat-alat.
  • Peserta didik memperoleh kecakapan mental, contohnya dalam perkalian, penjumlahan, pengurangan, pembagian, tanda-tanda/simbol, dan sebagainya.
  • Dapat membentuk kebiasaan dan menambah ketepatan dan kecepatan pelaksanaan.
  • Peserta didik memperoleh ketangkasan dan kemahiran dalam melakukan sesuatu sesuai dengan yang dipelajarinya.
  • Dapat menimbulkan rasa percaya diri bahwa peserta didik yang berhasil dalam belajar telah memiliki suatu keterampilan khusus yang berguna kelak dikemudian hari.
  • Guru lebih mudah mengontrol dan membedakan mana peserta didik yang disiplin dalam belajarnya dan mana yang kurang dengan memperhatikan tindakan dan perbuatan peserta didik saat berlangsungnya pengajaran.
Kelemahan Metode Latihan:
  • Menghambat bakat dan inisiatif anak didik karena anak didik lebih banyak dibawa kepada penyesuaian dan diarahkan kepada jauh dari pengertian.
  • Dapat menimbulkan verbalisme, terutama pengajaran yang bersifat menghapal. Dimana peserta didik dilatih untuk dapat menguasai bahan pelajaran secara hapalan dan secara otomatis mengingatkannya bila ada pertanyaan yang berkenaan dengan hapalan tersebut tanpa suatu proses berfikir secara logis.
  • Membentuk kebiasaan yang kaku, artinya seolah-olah peserta didik melakukan sesuatu secara mekanis dan otomatis.
  • Menimbulkan penyesuaian secara statis kepada lingkungan, dimana peserta didik menyelesaikan tugas secara statis sesuai dengan apa yang diinginkan oleh guru.
  • Latihan yang terlampau berat akan menimbulkan perasaan benci, baik kepada mata pelajaran maupun kepada gurunya.
  • Latihan yang dilakukan berulang-ulang dengan pengawasan yang ketat dan dalam suasana yang serius mudah sekali menimbulkan kebosanan dan kejengkelan. Akhirnya anak enggan berlatih dan malas atau mogok belajar.
  • Menghambat bakat dan inisiatif siswa, karena siswa lebih banyak dibawa kepada penyesuaian dan diarahkan jauh dari pengertian.
  • Latihan dan praktek yang tidak diberi bimbingan dan perhatian secara serius dapat menimbulkan kesalahan atau respon yang tidak pada tempatnya
  • Metode latihan menuntut persiapan yang matang dengan pertimbangan memberikan sesuatu yang dibutuhkan oleh siswa.
Pelaksanaan Metode Drill  dilakukan dalam dua tahap:
a. Tahap 1 : Latihan Terkontrol
     Langkah-langkah yang dilakukan oleh guru:
  • memberikan sejumlah latihan soal dan meminta supaya siswa mengerjakannya.
  •  memberi arahan dan petunjuk-petunjuk cara pengerjaan untuk menyelesaikan soal guru.
  • memberi bantuan kepada siswa yang memerlukan bantuan dalam menyelesaikan soal.
  • memberikan jawaban yang benar atas soal tersebut.
b. Tahap 2 : Latihan mandiri
    Langkah-langkah yang dilakukan oleh guru:
  • memberikan beberapa soal.
  • meminta siswa supaya mengerjakan soal tersebut dengan memberikan batas waktu yang cukup.
  • meminta supaya hasil pekerjaan masing-masing siswa dikumpulkan kepada guru
  • menilai hasil pekerjaan siswa
Dalam menggunakan metode drill, perlu diperhatikan beberapa hal berikut ini:
a. Metode Drill hendaknya digunakan untuk melatih hal-hal yang bersifat motorik, seperti menulis, permainan, pembuatan grafik, kesenian, dsb. Maka gunakanlah latihan ini hanya untuk pelajaran atau tindakan yang dilakukan secara otomatis, yaitu hal yang dilakukan siswa tanpa menggunakan pemikiran dan pertimbangan yang mendalam, tetapi yang dapat dilakukan dengan cepat seperti gerak refleks saja, misalnya: menghafal, menghitung, lari dan sebagainya.

b. Latihan tidak perlu lama asal sering dilaksanakan. Latihan pun harus menarik minat dan menyenangkan, serta menjauhkan siswa dari hal-hal yang bersifat keterpaksaan. Dalam hal ini guru hendaknya memperhitungkan waktu/masa latihan yang singkat saja agar tidak meletihkan dan membosankan. Masa latihan dapat menyenangkan dan menarik dan bisa menghasilkan keterampilan yang baik, dapat dilakukan dengan mengadakan latihan ulangan pada kesempatan yang lain atau dengan mengubah situasi dan kondisi untuk menimbulkan optimisme pada siswa.

c. Latihan harus disesuaikan dengan taraf kemampuan siswa. Dalam hal ini guru perlu memperhatikan perbedasan individual siswa; sehingga kemampuan dan kebutuhan siswa masing-masing tersalurkan/dikembangkan. Apabila latihan diberikan secara bersama, latihan harus diikuti dengan latihan individu. Pada umumnya latihan yang diberikan secara perorangan akan lebih baik dari latihan bersama. Sebab, dengan perorangan guru dapat mengetahui kemajuan siswanya, memudahkan mengontrol dan mengoreksi.

d. Selama latihan guru perlu memperhatikanlah kesalahan-kesalahan yang dilakukan siswa. Dengan kata lain harus adanya pengawasan, bimbingan dan koreksi yang segera diberikan oleh guru. Dan hal ini akan memungkinkan siswa untuk segera melakukan perbaikan terhadap kesalahan-kesalahannya. Kesalahan yang umum dilakukan diberi perbaikan secara klasikal, sedangkan kesalahan yang dilakukan secara perorangan dibetulkan secara perorangan pula.

d. Proses latihan hendaknya mendahulukan hal-hal yang esensial dan berguna. Artinya, sesuatu yang dilatihkan harus berarti, menarik dan dihayati murid sebagai kebutuhannya. Hal ini pun penting untuk menghindari latihan tenggelam pada hal-hal yang rendah/tidak perlu/kurang diperlukan. 

f. Sebelum latihan dilaksanakan siswa hendaknya diberi pengertian yang mendalam tentang apa yang akan dilatih dan kompetensi apa saja yang harus dikuasai serta arti dan kegunaannya dalam kehidupan. Tujuan-tujuan tersebut harus dijelaskan kepada siswa sehingga setelah selesai latihan mereka termotivasi untuk mengerjakannya dengan tepat sesuai apa yang diharapkan

g. Bahan yang diberikan dalam latihan diberikan secara teratur, tidak loncat-loncat dan step by step akan lebih melekat pada diri anak dan benar-benar menjadi miliknya. Latihan hendaklah diberikan mulai dari dasar atau dari permulaan. Guru janganlah melangkah ke pelajaran berikutnya dengan mudah sebelum pelajaran yang terdahulu dikuasai dengan benar.

h. Di dalam latihan pendahuluan guru harus lebih menekankan pada diagnosa, karena latihan permulaan itu kita belum bisa mengharapkan siswa dapat menghasilkan keterampilan yang sempurna. Pada latihan berikutnya guru perlu meneliti kesukaran atau hambatan yang timbul dan dialami siswa, sehingga dapat memilih/menentukan latihan mana yang perlu diperbaiki. Kemudian instruktur menunjukkan kepada siswa response/tanggapan yang telah benar dan memperbaiki response-response yang salah. Kalau perlu guru mengadakan variasi latihan dengan mengubah situasi dan kondisi latihan, sehingga timbul response yang berbeda untuk peningkatan dan penyempurnaan kecakapan atau ketrampilannya.

i.Tentang sifat-sifat suatu latihan, setiap latihan harus selalu berbeda dengan latihan yang sebelumnya. Hal itu disebabkan pertama, karena situasi dan pengaruh latihan sebelumnya berbeda dari latihan sesudahnya. Kedua, karena adanya perubahan kondisi/situasi belajar yang menuntut daya tanggap/response yang berbeda pula. Disamping itu, perlu pula disadari bahwa dalam segala perbuatan manusia, kadang-kadang ada keterampilan yang sederhana yang bisa dikuasai dalam waktu singkat, seperti menanak nasi, mengepel lantai,  tetapi sebaliknya ada ketrampilan yang sukar, sehingga memerlukan latihan dengan jangka waktu lama serta latihan yang maksimal, seperti memperbaiki mesin motor, membangun rumah dan sebagainya. Sifat latihan harus mengarah, dari yang bersifat ketepatan ke kecepatan. Kedua hal ini harus dimiliki oleh peserta didik.

Kepustakaan: berbagai buku dan internet.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar